Agak sedikit flashback ke belakang, jaman- jaman belajar fisika hhe. Waktu itu satu modul praktikum yang saya ingat adalah elastisitas.
Elastisitas itu kalau tidak salah artinya kemampuan suatu benda untuk kembali ke keadaan semula setelah diberikan suatu gaya (CMIIW). Tapi jangan salah, elastisitas memiliki batas, tidak selamanya suatu benda dapat elastis. Ketika benda tersebut melawati batas elastisitasnya maka beda itu bisa jadi tak kembali ke keadaan semula.
Seorang teman bernama Lina yang sangat lucu mencoba menjelaskan hal ini di depan para asisten laboratorium. Tentu saja dengan penjelasan yang amat unik, sehingga selalu nempel di otak. Ia memegang penggaris dan berkata "ini penggaris, kalau saya lengkungkan ke atas seperti ini maka ia akan kembali ke bentuk semula, jika saya lengkungkan seperti ini maka ia juga kembali ke seperti semula. Jika saya melengkungkan seperti ini (dengan tenaga dan gaya yang besar) yah.. patah penggarisinya. Ini menunjukan penggaris ini sudah melawati batas elastisitasnya.
Mungkin nyatanya elastisitas bukan hanya milik benda, manusia pun punya elastisitas. Ketika ia diberikan keadaan yang kurang menyenangkan, ia bisa jadi sedih sebentar tapi akan kembali ke keadaas semula. Ketika ia diberikan keadaan yang menyenangkan ia akan merasakan senang, mungkin sebentar mungkin lama, tapi yang pasti akan kembali ke keadaan semula. Ketika keadaan yang diberikan sudah melewati batas elastisitasnya? apa pikir manusia itu tahan?
Anggap saja saya sampel dari manusia ini, kadangkala tidak tahan kesedihan, tidak tahan cacian, tidak tahan segala hal yang berlebihan melebihi batasnya. Entah yang mana batasnya, kata seseorang "kesabaran itu tak berbatas, kalau berbatas mungkin kamu sudah mati," tapi inikah batas?
Senin, 14 Januari 2013
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar